Arsip

Archive for the ‘Dakwah Indonesia’ Category

Tetangga

3 Desember, 2009 abu muadz Tinggalkan komentar

TETANGGA
Oleh: Syaikh Ali Hasan Al-Halabi Al-Atsary
Risalah Al-Hujjah No: 44 / Thn IV / Muharram / 1423H

TetanggaKetahuilah bahwa sesungguhnya tetangga menuntut suatu hak disamping hak yang dituntut oleh persaudaraan Islam. Seorang tetangga muslim berhak memperoleh hak yang didapatkan oleh setiap muslim ditambah lagi dengan hak sebagai tetangga. [Tashfiah Al-Qulub: 427, Yahya Al-Yamani].
Dan hak tetangga itu tidaklah terbatas pada mencegah penderitaan saja, tetapi juga menanggung penderitaan tersebut, berbuat lembut, memulai berbuat baik, mendahului tetangga di dalam mengucapkan salam, menjenguknya ketika sakit, menghiburnya saat tertimpa musibah, memaafkan kekeliruan-kekeliruannya, tidak mengamat-amati rumahnya, tidak membuat dia jengkel dengan menempelkan papan di atas temboknya dan menuangkan air ke dalam saluran airnya serta tidak membuang debu di halaman rumahnya, tidak terus menerus melihat apa yang dibawa ke rumah, hendaknya menutupi aib-aibnya yang tersingkap, tidak mencuri-curi pandangan terhadap apa yang dikatakan, menutup mata dari melihat istrinya, memperhatikan kebutuhan-kebutuhan keluarganya ketika dia pergi [Mukhtasar Minhajul Qasidin : 138]. Tidak melihat pembantunya terus menerus, berbuat lemah lembut terhadap anaknya ketika berbicara, dan mengarahkannya kepada apa yang dia tidak tahu tentang masalah agama dan dunianya. [Tashfiah Al-Qulub : 428]

Read more…

Madrasah Tauhid Manasik Haji

24 November, 2009 abu muadz Tinggalkan komentar

Oleh: al-Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA.

Ibadah haji, dari amalan paling pertama, yaitu talbiyyah, hingga amalan paling akhir, yaitu thawaf wada’, penuh dengan pendidikan akhlak kepada Allah, Sang Pencipta ‘azza wa jalla.

Antara Talbiyah & Tauhidullah

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّـيْكَ لاَ شَـريْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Kusambut panggilan-Mu, Ya Allah, kusambut panggilan-Mu, Kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Kusambut panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, karunia, dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Talbiyyah ini adalah puncak pengikraran iman dan tauhid, di mana hakikat iman dan tauhid adalah pengagungan Allah dengan sebenar-benarnya. Pada talbiyyah ini, kita mengikrarkan bahwa segala pujian, kenikmatan dengan berbagai macam dan wujudnya, dan segala kekuasaan, termasuk ke dalamnya mengatur alam semesta ini, hanya milik Allah, tiada satu pun yang menjadi sekutu bagi Allah dalam semua hal-hal tersebut. Oleh karena itu sebagai kelaziman dari ikrar tersebut, kita hanya bersyukur dengan menujukan segala macam ibadah kepada-Nya semata. Read more…

Pernahkah seorang Mukmin Stress..!!!??

7 November, 2009 abu muadz Tinggalkan komentar

Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim, M.A

QuiteDalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Berfirman:

“(artinya) Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” [QS. al-Anbiya':35].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa” [Tafsir Ibnu Katsir: 5/342- Cet. Darut Thayyibah] .

Kebahagiaan hidup adalah dengan bertakwa kepada Allah

Allah dengan ilmu-Nya yang maha tinggi dan hikmah-Nya yang maha sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat. Allah berfirman:

“(artinya) Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu” [QS. al-Anfaal: 24).

Inilah yang ditegaskan oleh Allah dalam banyak ayat al-Qur'an, di antaranya firman-Nya:

“(artinya) Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan ” [QS. An-Nahl:97].

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” [QS. Huud:3].

Read more…

Situs Baru Al-Hujjah

7 Desember, 2008 abu muadz 3 komentar

AL-HUJJAH .:Menuju Kesempurnaan Islam diatas Sunnah:. www.alhujjah.com

Alhamdulillah, Buletin Jum’at Al-Hujjah telah menempati rumah barunya di www.alhujjah.com, dengan tampilan baru yang lebih fresh dan insya Allah penuh manfaat. Antum tetap bisa meninggalkan pesan komentar ataupun pertanyaan disana, karena Al-hujjah bukan hanya sekedar blog namun nantinya antum dapat mengunduh atau mendownload berkas-berkas bermanfaat dan juga audio streaming para asatidz dari Lombok. Insya Allah

Tayyib, kami tunggu kunjungan antum disana…

Syukron, wa Jazzakumullahu Khairan…

Ayat-Ayat Cinta

14 April, 2008 abu muadz 2 komentar

“ANTARA DAKWAAN & KENYATAAN”

Disusun oleh : Redaksi Al-Hujjah

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[QS. Ali ‘Imraan: 31]

Jika hendak diartikan secara harfiah, Ayat-Ayat Cinta berarti Tanda-Tanda Cinta. “Tanda-tanda cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”, makna inilah yang hendak kami angkat sebagai titik sentral kajian Tafsir kita kali ini. Menilik fenomena belakangan ini, dimana kaum muslimin seolah kehilangan figur sejati untuk dicintai. Mereka berbondong-bondong mengidolakan tokoh fiktif novel ketimbang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, teladan sejati –yang riil (nyata)- bagi kaum muslimin dalam hal cinta dan ketulusan

Selengkapnya disini

Categories: Buletin Al-Hujjah

‘Perginya’ Ust. Armen Halim Naro

26 November, 2007 abu muadz 9 komentar

BERITA DUKA

إنا لله وإنا إليه راجعوان

Pada hari ini, Senin 16 Dzulqo’dah 1428 bertepatan dengan 26 November 2007 pukul 11.03, seorang al-Akh telah mengirimkan berita duka kepada saya, bahwa guru kami yang tercinta, al-Ustadz Armen Halim Naro dari Riau – Pekan Baru, telah wafat meninggal dunia.

ستبدي لك الأيام ما كنت جاهلاويأتيك بالأنباء من لم تزود

Waktu akan menampakkan apa yang tidak kamu ketahui

Dan datang memberimu berita tentang apa yang tak kamu ketahui

Read more…

Categories: Dakwah Indonesia, Sahabat