Beranda > Adab & Etika, Manhaj > Arogan, Meremehkan Ulama

Arogan, Meremehkan Ulama

Arogan, Meremehkan Ulama
Oleh Ahmaz Faiz Asifuddin

Adalah arogan jika seseorang meremehkan ulama. Ia lupa akan kedudukannya ketika menyejajarkan dirinya dengan ulama. Ia tak sadar kalau posisinya seperti katak dalam tempurung. Tidak memahami dalamnya lautan ilmu para ulama (ulama Ahlu Sunnah/Ahlu Hadits), lupa bahwa ulama adalah orang-orang yang sangat memahami permasalahan agama. Padahal kehidupan di dunia ini adalah kehidupan beribadah, karena untuk maksud itulah manusia diciptakan dan diadakan dimuka bumi oleh Allah sebagaimana firmanNya yang artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu (adz Dzariyat:56)

Sementara, kehidupan beribadah ini tidak akan jalan tanpa agama (dinullah),- dan itu meliputi semua aspek-, sedangkan masalah agama (dinullah), yang menguasainya adalah para ulama (ahlu Sunnah). Sehingga otomatis kehidupan tidak akan jalan dengan tertib jika tidak ada bimbingan dari para ulama.

Tetapi dalam kenyetaan, betapa banyak orang yang tidak memahami permasalahan ini. Sehingga mereka merasa mampu mengatur dunianya tanpa merasa perlu melibatkan ulama. Bahkan ulama dianggap sekelompok orang yang tidak mengetahui situasi dan kondisi, tidakmemahami perkembangan zaman dan hanya berkutat dalam masalah hadits, haid, nifas shalat dst. Akibatnya timbul sikap arogan. Mereka menolak keterlibatan para ulama dalam urusan pengaturan dunia. Padahal sekali lai, adakah dunia yang tertib akan terwujud tanpa dinullah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan dalam sabdanya artinya:
Tidak masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kasombongan seberat biji atom. Seorang sahabat bertanya: ‘Sesungguhnya ada orang yang menyukai jika bajunya bagus dan sandalnya (juga) bagus’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:’Sesungguhnya Allah adalah jamil (Maha Indah), Dia cinta pada keindahan. (Tetapi yang dimaksud) sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang’.
(Hadits riwayat Muslim; Shahih Muslim Syarh Nawawi dalam Tahqiq Khalil Ma’mun Syiha bernomor 261/Kitab al-Iman, Bab Tahrim al-Kibr wa Bayanihi).

Hadits di atas mengingatkan orang agar jangan sampai menolak kebenaran dan meremehkan orang. Karena menolak kebenaran dan meremehkan orang merupakan kesombongan yang pelakunya diancam tidak masuk surga.

Meremehkan orang -siapapun adanya orang tersebut- dengan mengakibatkan sikap menolak kebenaran. Apalagi jika yang diremehkan seorang ulama, akibatnya bisa fatal. Memang benar, bahwa perkataan ulama bukan dalil, tetapi dalil tidak akan bisa dipahami tanpa penjelasan para ulama. Ulama adalah jembatan untuk memahami ajaran Islam, karena itu, para Ulama (Ahlu Sunnah) harus dihormati dan diperhatikan pernyataan-pernyataan serta nasehat-nasehatnya.

Ulama Adalah Pemimpin Umat

Kaum muslimin memililki dua bentuk ulama, yang sebenarnya harus disyukuri dengna cara memberikan penghormatan selayaknya kepada mereka dan memanfaatkan kehadiran mereka dengan sebaik-baiknya, sebagaipemimpin dan pembimbing umat dalam beragama, berbangsa dan bernegara, agar kaum muslimin menjadi senantiasa lurus dan tidak menyimpang serta pada gilirannya selalu diberkahi Allah. Mumpung mereka masih ada. Sebelum allah mengambil nyawa-nyawa mereka dari muka bumi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan artinya:
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari dada-dada manusia tetapi Dia mencabutnya dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga apabila Dia tidak menyisakan satu ulamapun, maka orang-orang akan menjadikan para tokoh pimpinan yang bodoh. Para tokoh pimpinan ini akan ditanya (oleh masyarakatnya), maka mereka akan berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka seat dan menyesatkan.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan tidak usah membatasi pengertian ulama dengan belenggu-belenggu kebangsaan atau arogansi hizbiyah (fanatisme kelompok). Hanya karena ulama tersebut bukan bangsanya atau tidak berasal dari kelompoknya, maka seorang enggan menerima keberadaan ulama tersebut. Bahkan tidak jarang bahwa seseorang justru menganggap tokoh yang sebenarnya bukan ulama sebagai ulama lantaran tokoh tersebut merupakan pemimpin atau tokoh pendiri gerakan hizbiyahnya.

Dua bentuk ulama yang dimiliki umat Islam itu dijelaskan oleh Ibnu al-Qayyim (dalam I’lam al Muwaqqi’in juz I hal 8-9, Tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, penerbit Daar al Fikr cet II th 1397 H/1977M) yang garis besarnya sebagai berikut:

Ketika da’wah ilallah (dakwah/ajakan menuju Allah) serta tabligh (penyampaian) risalah RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan syi’ar hizbullah yang pasti bakal jaya dan merupakan syi’ar pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di alam raya, sebagaimana firman Allah artinya:
Katakanlah (hai Muhammad): ‘Dakwah inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu) menuju Allah berdasarkan ilmu yang jelas. Maha suci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musrik.
(Yusuf : 108)

Begitu juga ketika tabligh (penyampaian) risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan tabligh lafal dan sekaligus makna dari ajaran yang dibawa oleh beliau, maka ulama di tengah umatnya terbagi menjadi dua macam:

Pertama, para huffadz hadits (pakar disiplin ilmu hadits), para ulama kritikus (peneliti) hadits dan para pemuka disiplin hadits. Mereka adalah imam-imam umat dan pengawal-pengawal islam yang menjaga tonggak-tonggak dan tiang-tiang agama bagi para imam (penerus). Mereka adalah para pemelihara sumber-sumber agama dari perbuahandan kotoran, sehingga generasi yang terlebih dahulu mendapatkan kebaikandari Allah, dapat menyelam mereguk sumber-sumber agama yang dalam keadaan jernih tanpa kotoran, tanpa dinodai oleh ra’yu-ra’yu (pendapat-pendapat) yang menimbulkan perubahan.

Mereka menyelami sumber-sumber itu sebagai mata air yang daripadanya hamba-hamba Allah minum dan dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka adalah para ulama yang dikatakan oleh Imam Ahmad pada khotbah pembukaan kitabnya yang terkenal tentang bantahan terhadap kaum zindiq dan kaum jahmiyah sebagai berikut:

‘Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang pada setiap masa vakum dari adanya para Rasul, Dia telah menciptakan lahirnya generasi Ahli Ilmu (ulama) yang (terus) mengajak orang-orang sesat menuju petunjuk dan senantiasa bersabar menghadapi tingkah orang-orang sesat ini. Menjadikan orang-orang mati (hatinya) menjadi hidup dengan Kitab allah (al-Quran) danmenjadikan orang-orang buta (mata hatinya) menjadi melihat dengan nur (cahaya) Allah. Betapa banyak korban iblis yang berhasil mereka hidupkan. Betapa banyak orang sesat yang telah (berhasil) mereka beri petunjuk (bimbingan). Betapa harum jejak mereka pada manusia, namun betapa buruk tindakan manusia pada mereka. Mereka telah menolak upaya tahrif terhadap kitab Allah yang dilakukan oleh orang-orang ekstrim, telah menolak pengkotak-kotakan yang dilakukan oleh orang-orang batil, dan menolak ta’wil yang dilakukan oleh orang-orang jahil (bodoh). Yaitu orang-orang yang telah mengikat (mengencangkan) tonggak-tonggak bid’ah dan melancarkan fitnah. Orang-orang ini berselisih tentang Kitab Allah, menyelisihi Kitab Allah dan bersepakat untuk memisahkan diri dari Kitab Allah. Orang-orang ini berbicara atas nama Allah, tentang Allah dan tentang KitabNya tanpa ilmu. Berbicara dengan bahasa-bahasa metasyabihat danmemperdaya orang-orang bodoh dengan hal-hal yang merancukan mereka. Maka kami memohon perlindungan kepada Allah dari orang-orang menyesatkan ini’.

Demikian keterangan Imam Ibnu al-Qayyim tentang bentuk ulama yang pertama. Yaitu para ulama yang mengkhususkan diri melakukan penelitian terhadap hadits untuk ekmudian memilah-milahnya, mana yang shahih dan mana yang dhaif. Sehingga dengan demikian keutuhan agama ini tetap terpelihara, sebab hadits sebagai salah satu sumber agama tetap etrjaga keasliannya. Selanjutnya dalam kitab yang sama, beliau menjelaskan bentuk ulama yang kedua sebagai berikut:

Kedua, fuqaha’ al-Islam (para ahli yang faqih dalam urusan ajaran islam) dan para Ahli Fatwa di kalangan umat. Yaitu orang-orang yang mengkhususkan diri menggeluti dunia istinbath hukum, orang-orang yang mengkonsentrasikan perhatiannya pada pembangunan kaidah-kaidah halal dan haram.

Keberadaan mereka di muka bumi ibarat keberasaan bintang di langit, dapat menerangi orang-orang yang berdiri kebingungan di tengah kegelapan. Kebutuhan manusia akan jenis ulama ini lebih besar daripada kebutuhan mereka akan makan dan minum. Dan ketaatan mereka terhadap para ulama ini lebih wajib daripada ketaatan kepad bapak-bapak dan ibu-ibu mereka berdasarkan nash Al-Quran, Allah berfirman artinya:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
(an-Nisaa’:59).

Imam Ibnu al-Qayyim selanjutnya mengetengahkan pernyataan Abdullah bin Abbas dalam salah satu rilwayatnya, juga pernyataan Jabir bin Abdullah, Hasan al-Bashri, abu al’Aliyah, Atha’ bin Abu Rabah, Dhahhak dan Mujahid dalam satu riwayatnya bahwa: Ulil Amri (yang dimaksud ayat di atas) adalam para ulama. Pernyataan ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Sementara itu Abu Hurairah dan Ibnu Abbas dalam salah satu riwayatnya yang lain, juga Zaid bin Aslam, as-Sudi dan Muqatil mengatakan bahwa: Ulil Amri adalah Umara’ (para penguasa). Dan itu juga merupakan riwayat kedua dari Imam Ahmad.

Tetapi kata Ibnu al-Qayyim bahwa setelah diteliti ernyata Umara’ hanya ditaati perintahnya bila mereka memerintahkan perkara yang sejalan dengan tuntutan ilmu. Karena itu, ketaatan kepada Umara’ mengikuti (merupakan konsekuensi dari) ketaatan kepada ulama … (I’lam al-Muwaqqi’in hal 9-10).

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ulama Ahlu sunnah, dari kategori manapun ulama tersebut, adalah pemimpin umat yang membimbing semua aspek kehidupan mereka.

Di sisi lain Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hafizhahullah mengatakan bahwa Ulama adalah salah satu diantara dua golongan yang diperintahkan oleh Allah untuk ditaati dalam surat an-Nisaa’:59. Dua golongan dimaksud adalah Umara’ serta para penguasaa (yang mukmin) dan ulama serta para penuntut ilmu (syar’i). Kata beliau (Syeikh Utsaimin), wilayah garap para ulama adalah memberikan penjelasan tentang syari’at Allah serta mendakwahi orang untuk berpegang pada syari’at ini,sedangkan wilayah garap umara’ adalah penerapan erhadap syari’at itu dan memaksa agar orang melaksanakannya. (Lihat Kitab al-‘Ilmi, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utaimin, penerbit Dar ats Tsurayya lin Nasyr; cet I 1417 H/1996 M hal 17 no 5).

Sementara itu, pada kitab yang sama di halaman 186, ketika beliau (Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin) ditanya tentang peranan ulama (pertanyaan 77), beliau menjelaskan:

‘Anggapan bahwa peran ulama hanya sebatas hukum-hukum syari’at saja adalah anggapan yang didasarkan pada kebodohan terhadap kenyataan ulama. Tentu saja para ulama syari’at memiliki ilmu tentang ekonomi, ilmu politik dan ilmu apa saja yang dibutuhkan dengan ilmu-ilmu syar’i’ (dinukil ringkas sesuai kebutuhan. Lihat selengkapnya pada halaman yang telah disebutkan diatas).

Apa yang dijalaskan di atas tidak berbeda dengan penjelasan para ulama Ahlu Sunnah lain, di antaranya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan dalam Majmu’ Fatawanya III/347 bahwa para Ahli Hadits adalah orang-orang yang paling memahami perkataan-perkataan serta keadaan-keadaan Nabi, dan paling besar perhatiannya untuk membedakan hadits-hadits shahih dengan hadits-hadits dha’if. Sedangkan para imam Ahli Hadits merupakan orang-orang yang faqih dan ahli dalam memahami sunnah Nabi serta menjadi pengikut setianya, baik secara keakinan, perbuatan maupun kecintaan. Begitu juga loyalitasnya terhadap orangorang yang loyal terhadap sunnah dan permusuhannya terhadap orang-orang yang memusuhi sunnah.

Pada tempat lain, Ibnu Taimiyah juga menegaskan bahwa fuqaha’ hadits adalah orang-orang yang lebih tahu tentang Rasulullah daripada fuqaha’ lainnya. Bahkan umara’ Ahli Hadits lebih berhak memahami (dan menerapkan) politik nabawi dibandingkan umara’-umara’ yang lain (meski seorang politikus ulung sekalipun) (lihat Majumu’ Fatawa Ibnu Taimiyah IV/95)

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi siapapun untuk bersikap arogan mengenggani para ulama Ahlu Sunnah/Ahlu Hadits. apalagi merasa bahwa dirinya yang masih dangkal sejajar atau bahka lebih unggul dibanding ulama-ulama tadi- Waba’udzubillah minal Kibr wa nas’alullaha at Taufiq.

Penutup

Dari keterangan di atas tidak berarti orang harus taklid buta kepad Ulama. Mereka tidaklah ma’shum sehingga Imam Mail pun menandasklan (artinya kurang lebih): “Masing-masing orang bisa diambil perkataannya dan bisa ditinggalkan, kecuali penghuni kuburan ini (maksudnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam) (Lihat misalnya kitab Minhaj al Firqah an Najiyah, Syeikh Muhammad bin Jamin Zainu pada sub judul Minhaj al Firqah an Najiyah).

Namun, sebagaimana dijelaskan dimuka, para Ulama Ahlu Sunnah adalah orang-orang yang paling emmahami petunuk serta sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Sehingga dengan demikian jika orang ingin baik dan sukses hidupnya, ia harus menjadikan ulama sebagai guru serta pemimpin utnuk membimbing pemahaman dan pangamalannya terhadap sunnah secara benar. Sedangkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah petunjuk kehidupan paripurna. Adakah petunjuk yang lebih baik daripada petunjuk Nabi?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda artinya:
Amma ba’d: Sesungguhnya sebaik-baiknya perkataan adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam …
(Riwayat ini telah ditakhrij oleh para ulama seperti dikatakan oleh Syeikh Ali bin Hasan al-Atsari. Lihat ‘Ilmu Ushul al-Bida’, Dar ar Raayah-Riyadh, cet I 1413 H/1992 M hal 6).

Tentang petunjuk Nabi merupakan petunjuk paripurna, dan bahwa beliau telah menjelaskan semua kemaslahatan hidup untuk dijalani dan menjelaskan semua kemadharatan agar dihindari. Abu Dzar Al-Ghifari memberikan kesaksian:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kami sedangkan tidak ada seekor burungpun yang mengepakkan sayapnya di udara kecuali beliau telah menyebutan ilmu kepada kami. Abu Dzar berkata (melanjutkan): Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda artinya: ‘Tidak tersisa lagi sesuatupun yang dapat mendekatkan kamu ke sorga dan menjauhkan kamu dari neraka kecuali (semuanya) telah dijelaskan kepadamu’
(Hadits yang dikeluarkan oleh Thabrani dalam al-Mu’jam al Kabir dansanadnya shahih, seperti yang dikatakan oleh Syeikh Ali bin Hasan al-Atsari. Lihat ‘Ilmu Ushul al-Bida’ hal 19).

Sementara umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling memahami petunjuk beliau adalah ulama pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itulah ulama tidak bisa ditinggalkan. Orang harus menghormati mereka dan menjaga lidah, hati serta sikapnya jangan sampai erkotori oleh caci makian., buruk sangka serta sikap arogan terhadap ulama. Ulama Ahlu Sunnah- ahlu Hadits- Ahlul Haq.

Nas’alullaha at-Taufiq.

Maraji’: As Sunnah Edisi 1/V/1421H-2001M (Salafyoon Online)

Kategori:Adab & Etika, Manhaj
  1. 30 Maret 2007 pukul 12:19 am

    Jazakalah sudah meng-copy-kan dari majalah asSunnah. artikelnya insyaaAllah bermanfaat bagi yang baca, termasuk saya. Terutama bagi mereka2 yang sering meremehkan & tidak mau mendengar penjelasan para ulama dan mengedepankan pendapat pribadinya walau pendapat pribadinya tersebut tanpa dalil & hanya bermain perasaan semata.

    Haryo Dakwah
    http://anNajiyah.notLong.com

    Waiyyakum..

  2. Salafy oon Online
    12 Desember 2007 pukul 5:10 pm

    susah yah jadi manusia

  3. Salafy oon online
    29 Desember 2007 pukul 10:02 am

    Jaza kalah sudah meng-copy-kan dari masalah asSunnah. artikelnya insyaAllah bermanfaat bagi yang baca, termasuk saya. Terutama bagi mereka2 yang sering merem eh.. kan.. & tidak mau mendengar penjelasan AULIA dan mengedepankan pendapat pribadi/golongannya walau pendapatnya tersebut dengan dalil & hanya bermain nafsu semata dengan MATA BATIN yang tumpul.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: