Beranda > Puasa > Tata cara pelaksanaan witir tiga raka’at

Tata cara pelaksanaan witir tiga raka’at

Dr Said bin Ali bin Wahf Al-Qathani

Berikut tata cara pelaksanaan witir tiga raka’at, yang penjelasannya diambil
dari Kitab Shalatut Tathawwu’ Mafhumun, wa Fadhailun, wa Aqsamun, wa
Anwa’un, wa Adabun Fi Dhauil Kitabi was Sunnah, edisi Indonesia Kumpulan
Shalat Sunnah dan Keutamaannya, oleh Dr Said bin Ali bin Wahf Al-Qathani.


TIGA RAKA’AT DENGAN SALAM SETELAH DUA RAKA’AT, KEMUDIAN BERWITIR SATU
RAKA’AT.

Dasarnya adalah hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia
menceritakan :
“Artinya : Nabi biasa memisahkan antara raka’at genap dan ganjil dengan
salam yang dapat kami dengar” [1]

Telah diriwayatkan dengan shahih dari Abdullah bin Umar secara mauquf. Dari
Nafi’, bahwa Abdullah bin Umar biasa melakukan witir dengan salam antara dua
raka’at pertama dengan satu raka’at terakhir, sehingga beliau sempat
memerintahkan beberapa hal dari kebutuhannya [2]. Hadits mauquf itu bisa
menguatkan hadits marfu’. Penulis sendiri pernah mendengar guru kita Imam
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah tentang Witir tiga raka’at,
bahwa itu dilakukan dengan dua kali salam : “Itu lebih utama, bagi orang
yang ingin shlat tiga raka’at, dan inilah yang mendekati kesempurnaan” [3]

TIGA RAKA’AT SECARA LANGSUNG, DENGAN HANYA DUDUK DI RAKA’AT TERAKHIRNYA.

Dasarnya hadits Abu Ayyub Radhiyallahu ‘anhu yang tercantum di dalamnya :
“Artinya : Barangsiapa yang ingin berwitir tiga raka’at, hendaknya ia melakukannya”
[4]

Juga hadits Abdullah bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam pada waktu witir membaca ” Sabbihis Marabbikal A’la”, pada
raka’at kedua membaca ” Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun”. Dan pada rakaat ke tiga
membaca ” Qul Huwallahu Ahad” Usai salam, beliau mengucapkan ” Subhanal
Malikil Quddus” tiga kali [5] Akan tetapi tiga rakaat itu beliau lakukan
sejaligus, dengan hanya satu kali tasyahhud di akhirnya. Karena kalau
dilakukan degan dua kali tasyahud, akan mirip dengan shalat Maghrib [6]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang shalat sunnah
diserupakan dengan shalat Maghrib [7], berdasarkan hadits Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan
bahwa beliau bersabda :
“Artinya :Janganlah kalian berwitir tiga raka’at. Berwitirlah
lima rakaat atau tujuh raka’at. Jangan serupakan dengan shalat Maghrib. [8]

Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahulah menggabungkan antara hadits-hadits dan
riwayat yang membolehkan Witir tiga rakaat dalam penafsiran bahwa ketiga
rakaat itu dalam shalat hingga akhir, dengan hadits-hadits yang melarang
witir tiga rakaat dalam penafsiran bahwa itu dilakukan dengan dua kali
tasyahud, hingga menyerupai shalat Maghrib” [9]

Di antara dalil yang menunjukkan witir tiga rakaat adalah adalah hadits
Al-Qasim dari Abdullah bin Umar, bahwa ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Shalat pada waktu malam itu dua-dua rakaa’at. Bila engkau hendak
menyelesaikannya, hendaknya shalat satu raka’at itu bisa menjadi witir dari
shalat yang sudah kamu lakukan”.

Al-Qasim menyatakan :
“Artinya: Kami sendiri pernah melihat banyak orang semenjak
kami nalar, yang melakukan witir tiga raka’at. Sesungguhnya masalah ini
cukup luas. Aku kira tidak ada yang salah dari semua cara itu. [10]
______________
Foote Note

[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban [Ihsan} dengan No. 2433,2434,2435.
Diriwayatkan juga oleh Ahmad II : 76 dari itab bin Ziyaad. AL-Hafidz Ibnu
Hajar menyatakan dalam Fathul Baari II : 482 :”Sandanya kuat”. Al-Albani
Rahimahullah menyatakan : “Hadits ini memiliki riwayat penguat yang marfu’.
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam biasa melakukan witir dengan memisahkan antara dua raka’at dengan
satu raka’at”. Sanadnya Shahih, berdasarkan persyaratan Al-Bukhari dan
Muslim. Beliau juga menisbatkan hadits ini kepada Ibnu Abi Syaibah. Lihat
Irwaaul Ghalil II : 150.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Witr, bab : Riwayat Tentang
Witir, no. 991. Diriwayatkan juga dalam Al-Muwatha’ Imam Malik I : 125.

[3] Penulis mendengarnya secara langsung ketika beliau menjelaskan
Ar-Raudhul Murbi II : 187 tertanggal 1:11: 1419H.

[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan no. 1422. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i
dengan no. 1712. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan no. 1192. Diriwayatkan
oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dengan no. 670. Diriwayatkan oleh Al-Hakim
I : 302, dan telah ditakhrij sebelum ini.

[5] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam kitab Qiyamullail dan Shalat Sunnah
Siang, bab Ikhtilafin naqilan li khabar Ubay Ibnu Ka’b fii witri 1201 dan
dishahihkan dalam Shahih Sunnan An-Nasa’i oleh Al-Albani 1/372, dan lihat
Nailul Authar 2/211, dan lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar ada syawahid
disana 2/481 dan Nailul Authar ASy-Syaukani 2/212.

[6] Saya dengan ini dari Imam Abdul Aziz Ibnu Baz ketika mensyarah Ar-Raudh
Al-Murbi’ 2/188 dikala membasah witir 3 rakaat dengan satu salam, beliau
berkata : “Namun jangan siserupakan dengan Maghrib, langsung saja”.

[7] Lihat ASy-Syarh Al-Mufti Al-‘Alamah Ibn Utsaimin 3/21.

[8] Ibnu Hibban (Al-Ihsan] 2429, Ad-Daruquthni 2/24, Al-Baihaqi 3/31,
Al-Hakim menshahihkan dan disetujui Adz-Dzahabi 1/304, Ibnu Hajar berkata
dalam Al-Fath 2/481, isnadnya sesuai syarat Syaikhan berkata dalam
At-Talkish 2/14 no. 511 isnadnya semuanya tsiqat dari tidak mengapa
pemauqufan orang yang mengnggapnya mauquf.

[9] Lihat Fathul Baari Syarah dari Shahih Al-Bukhari, oleh Ibnu Hajar II :
481 dan juga Nailul Authar oleh ASy-Syaukani II : 214.

[10] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dan ini lafazhnya dengan no. 993. Diriwayatkan oleh Muslim dengan no. 743
dan telah ditakhrij sebelumnya.

[Kumpulan Shalat Sunnah dan Keutamaannya, hal. 62-64 Darul Haq]

Kategori:Puasa
  1. Hasanul Effendi
    28 September 2007 pukul 10:23 am

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Pelaksanaan tiga rakaat shalat witir di mesjid tempat mukim saya, dimana pada rakaat terakhir Imam sering membaca surat-surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas sekaligus (dalam rakaat ketiga shalat witir berjamaah tersebut).
    Apakah perbuatan serupa ini memang ada tuntunannya dari Rasulullah ? Mohon pencerahan, terima kasih.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Hasanul Effendi
    Jl.Selasih No.3-D
    Komp.Pusri, Sungai Selayur,
    2-ilir PALEMBANG

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, insya Allah yang demikian itu ada tuntunannya, ada riwayat yang lemah dari Aisyah radhialluhuanha, namun hadits ini dshahihkan oleh syeikh Albani dan juga dilemahkan oleh Syeikh bin Baz. Kesimpulannya kalaupun hadits dari Aisyah radhialluhuanha shahih, maka hal yang demikian (membaca 3 surat di akhir rakaat witir) dapat dilakukan sesekali. Demikian yang ana dapat dari kitab Qiyamu Lail karya syeikh al-Qohtoni,
    Allahu ‘alam

  2. widi
    29 September 2007 pukul 11:25 am

    jazakallohu khjoiron
    ana bisa lebih mudah mencari ilmu
    melalui website-website seperti ini.
    Kalau bisa, ana minta tolong…
    ana dikirimin Ebook Sifat Sholat Nabi oleh Syekh Albani.
    soalnya ana belum bisa download ebook tsb.
    Barokallohufik.

    Wa iyyakum. Alhamdulillah kalau blog ini dapat bermanfaat buat antum. kalau masalah ebook ana belum bisa untuk saat ini, insya Allah di masa mendatang. Antum sudah coba di blognya Akhi fillah Abu Salma disini insya Allah disana ada.

  3. k' tutur
    29 September 2007 pukul 3:46 pm

    jadi dua-duanya boleh ustadz?

    Ya, insya Allah kedua-duanya boleh.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: